Feeds:
Posts
Comments

DARI SAYA….

oleh: Dan Rasyid

Selamat datang para blogger di situs cerita yang ( mungkin ) pertama di tanah air. Blog ini kami buat untuk berbagi cerita ( fiktif ) kepada teman-teman blogger, baik dongeng, cerpen maupun puisi.
Kedepannya ( mudah2an gak lama lagi ), kami akan memuat sumbangan tulisan cerita ( dongeng, cerpen maupun puisi ) dari para blogger yang budiman dan budiwati. Tapi mohon isi ceritanya jangan menyinggung SARA, pornograpi, pornoaksi, dan hal-hal gak enak lainnya.
Sumbangan cerita yang masuk akan kami muat bulat-bulat apa adanya, tapi kami tak bertanggung-jawab akan isinya.

Akhir kata, selaku CEO ( Chief E-cerita Officer ),  saya ucapkan banyak terimakasih sebelumya atas waktu yg para blogger luangkan untuk mampir ke situs kami ini.
 
Kami bukan yang pertama, tapi mudah-mudahan akan menjadi yang terbaik…

Terimakasih.

Bogor, Agustus  2009
Dan Rasyid
CEO E-Cerita

Arlien

Arlien, masih ingatkah….

Aku ingat betul hari itu, Sabtu, sekitar 30 tahun yang lalu. Ruangan kelas begitu gaduh. Aku dan kawan-kawanku saling berkejaran sambil berteriak-teriak di dalam kelas. Ada yang bermain “perang udara” dengan melontarkan pesawat kecil yang terbuat dari kayu, tepat menuju batok kepala “musuh”nya. Sementara anak perempuan riang gembira bermain loncat tali.
Dalam suasana riuh rendah dan gaduh seperti itu, mendadak kelas sunyi senyap. Semua mata memandang ke pintu. Disana berdiri Pak Anto, sang wali kelas yang galak.
Tapi, yang membuat kami terdiam bukan karena kehadiran beliau yang tiba-tiba. Melainkan, ini; di belakang Pak Anto berdiri seorang anak perempuan, murid baru istilahnya. Rambutnya halus panjang lurus hampir mencapai pinggang. Beda benar dengan teman-temanku yang rata-rata berambut kusam. Hidungnya mancung agak kemerahan. Beda benar dengan kami-kami yang rata-rata berhidung “mendelep”. Matanya, aduh mak!! Bulat bening dan sedikit redup. Beda benar dengan rata-rata temanku yang bermata belok. Dan, tingginya, ya ampun, kira-kira sepadan dengan anak seusia SMP, padahal kami baru kelas 6 SD saat itu.
Satu lagi, aku sebisa-bisanya tersenyum kepadanya. Tapi dia memandangku hanya sekilas, matanya memandang lekat-lekat ke arah si Armend, sang ketua kelas yang gagah dan paling pinter.

Arlien, nama teman baru kami itu. Pindahan dari luar kota. Sejak kehadirannya, kelas kami terasa ada perubahan. Kami sepertinya lebih bersemangat dan berlomba-lomba unjuk kepinteran, dengan harapan dapat bonus pandangan bersahabat plus senyuman ramah dari teman baru kami, Arlien.
Tapi, sungguh, aku gak ikut-ikutan bersaing dengan teman-temanku. Aku benar-benar paham, kemampuanku sampai dimana. Daripada malu-maluin, aku lebih suka menonton saja teman-temanku sok pamer otak di hadapan sang puteri ( eh iya, diantara teman-temanku anak perempuan, Arlien dapat julukan sang puteri, sebagian karena dia memang cantik bak puteri, sebagian lagi karena teman-temanku itu iri akan kecantikannya ).

Sampai pada satu hari. Hari apa ya, lupa ah. Aku lagi ngelamun di bangku sambil terkantuk-kantuk. Tanpa kusadari, Arlien sudah duduk disampingku sambil menyodorkan buku pe-er Berhitung ( eh iya, jaman dulu belum ada Matematika ).
“Bang, aku bingung nih!” Suaranya yang lembut membuat aku tersentak dari lamunanku. Saat itu aku tak kuasa mengusir rasa kaget dari rasa kantukku. Sehingga dengan spontan tanpa kendali aku menjawab, “Ada apa sayang?” Rupanya diapun kaget dengan sapaan ‘sayang’ yang keluar dari mulut usilku. Sejenak mata kami bertemu. Dia tertegun memandangku. Akupun terpana menatap mata indahnya. Selanjutnya, astaga. Kalian pasti gak percaya. Sejak saat itu, ya ampun, eeeeee…..ini cerita kok makin gak jelas yaaaa…..

Okelah, pokoknya, mulai hari itu aku dan Arlien semakin akrab. Entah dapat hembusan angin-pinter dari dewa yang mana, tapi rasanya sejak saat itu aku jadi semakin pinter. Setiap ada pe-er, Arlian selalu bertanya kepadaku. Dan, aku selalu bisa menjawabnya dengan benar dan lancar. Satu lagi keanehan yang kurasakan, aku tak suka lagi bicara kasar. Kalau sebelumya aku dan teman-temanku saling menyapa dengan bahasa ‘gaul’, sepert ini “ooii monyet kesini kau!” atau “hei kampret minggir kau!”, dan sejenis itu, tapi sejak akrab dengan Arlien kata-kata “sopan” seperti itu tak lagi keluar dari mulutku.
Aku tak lagi suka nyontek di kelas. Aku tak lagi suka nyolong rambutan atau mangga bersama gerombolanku. Aku tak suka lagi ngintip orang mandi di sungai dekat sekolah kami. Aku tak suka lagi membolos sekolah.
Dan, aku tak suka lagi bangun kesiangan. Aku ingin selalu berada di sekolah sebelum Arlien datang. Karena, menyaksikan Arlien berjalan di kejauhan adalah suatu pemandangan menakjubkan bagiku. Lenggak-lenggoknya begitu gemulai. Ayunan tangannya membuat hatiku tenteram. Langkah kakinya begitu mantap, seolah jantungku berdenyut seirama dengan derap langkahnya…

Singkat cerita, kebiasan kami mengerjakan pe-er mulai bergeser. Tidak lagi di ruang kelas, tapi Arlien mulai mengajakku kerumahnya. Tentu aja aku merasa “berat” untuk menolak ajakan yang satu ini (dasar pencoleng yee..). Jadilah aku sering mampir kerumahnya. Sampai-sampai aku kenal dan akrab dengan orang tua dan sodara-sodaranya.
Eh iya, ada satu lagi “manfaat” yang kudapat dengan makin seringnya aku main ke rumah Arlien. Berhubung aku selalu diajak ke rumahnya siang hari saat pulang sekolah, maka ibunya selalu mengajakku untuk makan siang. Apakah aku menolak peluang emas ini? Uhh, sory sory sory jack..!!! Aku menyambutnya dengan lapang dada, hati terbuka dan mulut menganga…

Satu hari, aku tergeletak di tempat tidur kena sengat malaria. Eeh iya, jaman itu malaria adalah penyakit yang paling menyenangkan, artinya paling senang menyerang siapapun. Berhari-hari aku tergeletak dengan perasaan serba tak nyaman. Kepala berasa dihimpit batu 10 kilo. Badan panas tinggi, seperti abis kena knalpot. Perut berasa diaduk-aduk gak karuan. Jangankan obat-obatan yang serba pahit itu, teh manispun tak bisa masuk kerongkonganku. Ihh… sungguh tersiksa!
Dalam keadan setengah sadar, mendadak aku merasakan tanganku di sentuh oleh sebuah benda halus yang sangat kukenal. Ya, Arlien duduk disamping tempat tidurku sambil menyentuh tanganku. Adubiyung !! Kalau saja saat itu aku sedang sehat, pasti kubalas sentuhannya itu dengan cara yang lebih “meriah”. Tapi aku sungguh tak berdaya. Kubiarkan saja dia mengelus tanganku. Kubiarkan saja dia mengompres jidatku. Dan, sungguh tak terduga, tiba-tiba dia menyuapkan makanan ke mulutku. Kalau saja ibu atau kakakku yang melakukan, pasti makanan itu sudah ku muntahkan. Sesudah acara suapan selesai, dia memasukkan obat ke mulutku. Duh, obat pahit itupun berasa manis !!
Selanjutnya aku tak ingat lagi. Bayangannya semakin buram dan aku jatuh tertidur pulas rupanya. Saat dia pulangpun aku tak menyadarinya.
Oalaa…Arlien…Arlien….!!

Sejak peristiwa kunjungan itu, aku dan Arlien semakin lengket. Kami masih kelas 6 SD saat itu. Aku belum ngarti apa itu cinta, kasih dan yang semacam itu. Yang ku pahami adalah, aku semakin sayang padanya.

Lantas, apa reaksi teman-temanku ?
Ternyata mereka merasa risih dengan perubahan perangaiku, yang lebih suka duduk manis di samping Arlien daripada berburu mangga di halaman orang. Lebih senang main kerumah Arlien daripada main di sungai sambil ngintip orang mandi.

Awal-awalnya teman-temanku hanya mencibir. Kemudian mulai menyindir. Tapi saat mereka mulai nyinyir dan mulai menghina Arlien, apa yang sebaiknya kulakukan? Anjing menggonggong kafilah berlalu, kata orang sih begitu. Tapi prinsipku beda: anjing menggonggong harus digetok kepalanya biar diam. Dan itulah yang kulakukan. Kuajak teman-temanku keluar dari kelas, termasuk Armend si ketua kelas berbadan bongsor itu. Di belakang sekolah ada semacam lahan yang dipenuhi semak-semak, dan di tumbuhi beberapa pohon rambutan tempat kami biasa bermain petak-umpet. Kesitulah ku ajak mereka.
Di tempat itu, keluarlah sifat asliku. Mereka ku bentak: kalian semua monyet sialan !! Menghina Arlien lagi, mati kalian !! Buset dah. Saat itu aku mirip pendekar sakti yang sedang membela kehormatan puteri raja. Mendengar hardikanku, Armend si bongsor maju dengan bringas, seperti banteng spanyol nyeruduk matador, sambil teriak: sini kau kampret !!
Saat itu, hanya tersedia waktu tiga detik bagiku. Detik pertama, pikiran kreatifku segera bekerja. Si babon ini begitu gede. Gak mungkinlah kalau kulawan dengan tenaga secara frontal face to face (buset ni istilahnya keren yee..). Kalau gitu aku harus punya rotan untuk melawannya. Dimana pula kudapatkan rotan ditempat seperti itu? Tak ada rotan akarpun jadi, kata pepatah. Maka, detik ke dua, aku meloncat kekiri untuk menghindari terkaman si Armend, sekaligus menyambar potongan akar pohon rambutan yang tergeletak di tanah. Detik ke tiga, aku mengeluarkan jurus kungfu yang sering kulihat di bioskop, The Litle Dragon Looking for Street, Naga Kecil Meminta Jalan: Pletak ! Pletak ! Pletak ! Tiga hantaman akar pohon rambutan mendarat persis di jidat si Armend. Tapi kulihat dia masih bringas. Terpaksalah kukeluarkan jurus ke dua, The Big Dragon’s Tail Looking for You, Sapuan ekor Naga Raksasa: Bag ! Big ! Bug ! Tiga hantaman lagi mendarat mulus di punggung si Armend.
Dia mulai meringis kesakitan sambil memperlihatkan barisan giginya yang teratur rapi. Mestinya aku kasihan melihat keadaan sahabatku itu. Tapi, inilah yang terjadi, aku bersiap mengeluarkan jurus pamungkas, The Drunken Dragon Showing the Teeth, Naga Mabok Unjuk Gigi. Sepersekian detik sebelum potongan akar rambutan itu mendarat di moncongnya, mendadak telingaku mendengar teriakan dari suara yang amat kukenal. “Bang !! Bambang !! Jangan !!”

Benar, Arlien berlarian bersama beberapa temannya, kearah kami yang sedang mempertaruhkan nyawa demi membela keyakinan masing-masing (sssettt dah). Dia lalu merampas dan membuang potongan akar rambutan yang sedari tadi kupakai guna memberi pijatan refleksi untuk si Armend.
Berikutnya, aku menurut saja waktu bidadariku itu menarik tanganku menjauh dari si Armend yang kalah TKO itu. Dia lalu mengajakku ke kantin, dan memesan teh es manis kesukaanku. Setelah gelas kedua kutenggak habis, dia lalu berkata “Kamu gak perlu begitu Bang. Aku baik-baik aja kok.” Duh, Arlien. Suara lembutnya membuat aku lupa sekeliling. Ingin rasanya kupeluk dan kucium dia. Tapi sebelum niat suci itu terlaksana, Pak Anto sudah berdiri di sampingku sambil teriak, “Bapak tunggu di kantor, jagoan !”
Hari itu, sampai jam pulang sekolah, aku di ganjar hukuman berdiri di halaman sekolah dengan kaki satu. Duh ! Malunya ! Tapi dalam hati aku bangganya bukan main. Aku berhasil membuktikan kepada Arlien, dan juga kepada kunyuk-kunyuk itu, siapa aku sebenarnya (emang siape? au ahh…). Dan sejak hari itu, setiap ada anak laki-laki yang mau berurusan atau sekedar menyapa Arlien, menoleh dulu kepadaku, seolah minta restu. Takut digetok kepalanya ‘kali yee….

Tanpa terasa, sampailah kami pada akhir masa sekolah. Sebentar lagi kami akan memasuki babak baru, ke SMP. Berarti, sebentar lagi, aku bakalan berpisah dengan Arlien. Mereka sekeluarga akan pindah lagi, mengikuti tugas sang Ayah yang selalu berpindah.
Oh Tuhan. Itulah saat paling menyedihkan dalam hidupku.

Aku baru usia 12 tahun saat itu. Aku belum mengerti apa itu cinta. Tapi hati ini begitu sedih dan pilu, serasa diiris-iris dengan pisau dapur, gitu. Saat akan berpisah, dia memelukku erat-erat. Kulihat dia menangis. Kudengar dia berkata pelan, “Bang, aku sayang kamu..” Tebak hayo, apa yang kulalkukan selanjutnya. Benar sekali. Aku menciumnya, di…bibir !! Aku meraskan nikmat yang luar biasa, serasa jiwa dan ragaku terbang ke Planet Mars. Entah apa yang terjadi, tapi akibat dari serangan balik secara mendadak begitu, Arlien tampak lemas dan pucat. Badannya lunglai dan hampir terjatuh, sampai-sampai aku terpaksa menahannya dan membopongnya ketempat aman.

First Love Will Never Die, cinta pertama gak akan pernah mati, kata Sherley Bessey. Tapi, cinta pertama itu sulit dimengerti, First Love Is Not Easy, kata Rod Steward.
………..

Kini 30 tahun kemudian, aku kembali tergeletak lemas di tempat tidur, kena sengat DBD. Kepala terasa seperti ditindih batu seberat 10 kilo. Badan lemas gak karuan, kadang dingin, kadang panas. Tetes-tetes cairan infus mengalir lesu.
Arlien, masih ingatkah engkau….Saat aku diserang kolera 30 tahun silam, engkau dengan setia merawatku. Kini, dimana engkau berada….? Aku merindukanmu. Sungguh, aku merindukanmu….
Samar-samar kulihat sosok berseragam putih datang mendekat. Oh, perawat itu tersenyum padaku. Setelah melakukan pemeriksaan rutin, dia pun pergi begitu saja. Suara langkah kaki si perawat yang menjauh, membuat aku merasa semakin sepi dan sendiri……

Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju ke tempat ia terbit kembali. Manusia yang satu pergi dan manusia yang lain datang, tetapi bumi tetap ada.

Arlien, sekiranya engkau membaca kisah ini, kenanglah masa-masa indah kita, 30 tahun yang lalu…

(kisah diatas hanyalah fiktif, kalau ada kesamaan itu hanyalah kebetulan belaka…)

Si Kancil and Snails

One day the deer seem sleepy. Her eyes felt heavy once to open. Aaa …. rrrrgh, the deer appears occasionally yawning.  Because the day is bright enough, the deer feel loss if squandered. He began to walk through forest to dispel the sleepiness. Up on top of a hill, the Kancil shouted with pride, O forest dwellers, I’m the most intelligent animals, clever and smart in this forest. Nothing can match the intelligence and my intelligence. As he puffed out his chest, the Kancil started walking down the hill.

Continue Reading »

Sleeping Princess

Long ago, there was a pair of Kings and Queens of the happy, because after for years, finally gave birth to a daughter of the Queen. King and Queen invited the seven fairies to come and bless Princess the newly born.

Continue Reading »

Hiruk pikuk pergantian tahun baru usai sudah
Sekarang, apa ?
Akankah 2010 yang penuh misteri akan kuisi persis tahun-tahun yang sudah-sudah?
Hanya sibuk berkutat dengan masalah sendiri sambil sesekali memandang kasihan kepada masalah orang lain
Tanpa keinginan untuk menolong
Haruskan aku berubah seratus delapan puluh derajat?
Lima puluh prosen daya-dana-waktu-pikiran untuk diri sendiri
Sisanya untuk masalah orang lain?
Tapi, kalau aku kelelahan, siapa yang akan menghiburku?
Kala aku terjengkang dihajar masalah, siapa yang akan menggendongku?
Kala badanku terbungkuk menahan beban kehidupan, siapa yang akan membopongku?

Dan beribu pertanyaan lainnya diawal tahun baru…
Yang datang menyergap-menyelinap masuk susul menyusul di kepala

Alamak…
Alangkah sulitnya memulai sesuatu yang baru

Semoga Tuhan mendengar dan memberiku kekuatan
Amin……

Dan Rasyid
Tomang, 04-01-2010

Gold Cucumber

In a village there lived an old widow named mbok Sarni. Each day he spends his time alone, because it does not have mbok Sarni a child. Actually he wanted to have children, in order to helped her work. On one afternoon to go mbok Sarni woods to get wood, and Sarni mbok road amid giant met with massive potential. Hey, you want where you are?, Asked the Giant. I only want to collect firewood, so allow me through, said mbok Sarni.

Continue Reading »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.